Minggu, 18 Desember 2011

MENULIS : MENUANGKAN IMAJINASI DALAM CERITA

Dunia menulis adalah alam di dasar karang, makin dalam kita menyelam dengan minat tajam, makin asyik dan terpukau kita oleh keindahan dan kekayaan. Begitu yang dikatakan oleh Mohammad Diponegoro penulis novel  Siklus – pemenang  Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975. 
Menulis memang sebuah keasyikan sendiri bagi yang menikmatinya, seolah membentuk dunia baru yang di-inginkan dan membuat tokoh-tokoh yang ingin dimainkan. Dan sang penulis boleh-boleh saja memutar-mutar nasib dan takdir tokoh-tokoh yang dibuatnya dengan se-enak hatinya tapi meski begitu sebagai penulis harus tetap berada pada jalur logika cerita agar cerita yang dibuat menjadi lebih menarik dan masuk akal, jika ingin tulisannya dibaca semua orang
dan menjadi konsumsi publik.
Menulis banyak macamnya, terutama menulis Fiksi yaitu menulis sesuatu yang berdasarkan imajinasi atau karangan cerita dari penulisnya. Seperti menulis cerpen, novel, scenario sinetron atau film.  Tapi jangan salah, meskipun menulis hanya berdasarkan pada kekuatan imajinasi diperlukan juga riset kecil-kecilan untuk tema yang akan di tulis agar isi cerita menjadi lebih berbobot dan lebih hidup.
Ketika menulis, tulisan yang dibuat  harus dapat memberikan sesuatu pada pembacanya, apakah berupa ilmu pengetahuan, hikmah kehidupan atau wawasan keilmuan yang bermanfaat buat pembaca, meski hanya tulisan fiksi yang berdasarkan pada imajinasi semata.
Coba lihat, tulisan-tulisan atau novel-novel yang berlatar sejarah seperti novel Gajah Mada. Penulisnya pasti melakukan riset sejarah yang cukup intens dengan nilai kevaliditasan yang tak diragukan. Karena ketika  penulis memberikan data riset yang salah pada tulisannya maka akan banyak complain dari pembacanya. Misalnya di tuliskan kelahiran Gajah Mada pada tahun 1972 Masehi, tentu ini sebuah kesalahan yang fatal dan merugikan si penulis itu sendiri juga merugikan pembacanya .
Maka melakukan riset meskipun hanya membuka-buka artikel yang berhubungan dengan tema cerita yang akan kita buat menjadi makanan pokok dari seorang penulis. Misalnya kita mau membuat tulisan pendek (cerpen) tentang kucing kesayangan yang mati di tabrak motor, tidak ada salahnya kita mencari tahu artikel-artikel yang mengupas tentang kelakuan kucing, warna bulu kucing, jenis-jenis kucing, dan sebagainya. Dengan begitu cerita yang akan kita buat menjadi lebih menarik dan informatif.
Tapi untuk tahap awal menulis, tidaklah perlu melakukan riset-riset yang cukup berat dulu karena tujuan kita bukan menjadi ilmuwan tapi menjadi penulis. Langkah awal menulis bisa dilakukan dengan menulis cerita-cerita yang dekat dengan diri kita. Tema-tema itu yang kita kembangkan dan kita rangkai menjadi sebuah cerita.
Misalnya seperti tema binatang kesayangan, pas bunga di rumah atau kejadian-kejadian yang kita alami setiap hari saat kita berangkat dan pulang sekolah atau kuliah. Semuanya bisa kita kemas menjadi sebuah cerita yang menarik dengan gaya kita sendiri. Tulis semua yang ada di otak dan setelah selesai kita coba membaca ulang dan ketika dirasakan ada hal-hal yang mengganjal di hati, langsung hapus dan tulis kembali dengan kata atau kalimat yang menurut kita lebih enak dan  pas.
So…kalau kita memang ingin menjadi penulis, sekarang juga bergerak. Ambil pulpen, kertas kosong atau buku diary kamu dan segera menulis. Dengan sering berlatih merangkai kata demi kata, maka suatu saat kita akan kaget membaca kata demi kata yang kita rangkai menjadi kalimat terasa menjadi begitu hidup dan memukau.
Ingat!  Semua orang bisa menulis tapi tidak semua orang bisa menulis dengan baik dan benar. Jurus 5M ini bisa kita lakukan di rumah kalau ingin menjadi penulis yang baik yaitu Menulis…Menulis…Menulis….Menulis….MENULIS….//spd.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar